Workshop Nasional Pendidikan dan Penelitian Persinyalan, Kontrol & Otomasi Perkeretaapian

23 Maret, 2016

Workshop Nasional Pendidikan dan Penelitian Persinyalan, Kontrol & Otomasi Perkeretaapian

 

Pemerintah Indonesia pada saat ini dengan giat melakukan pembangunan sistem transportasi massal yang berbasis pada perkeretaapian sebagai salah satu upaya dan solusi untuk meningkatkan kapasitas perpindahan manusia dan keperluan logistik. Pengembangan perkeretaapian  dalam rencana jangka waktu 2015-2019 dilakukan tidak hanya di pulau Jawa, melainkan juga di wilayah pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.  Salah satu proyek pembangunan perkeretaapian (railways) tersebut adalah pengembangan jalur ganda di wilayah utara Jawa yang direncanakan sudah dapat dioperasikan secara penuh pada tahun 2016.  Di satu sisi, revitalisasi kembali jalur perkeretaapian yang pernah ada dan jalur perkeretaapian langsung antara pusat kota dan bandara nasional/internasional dan pelabuhan menjadi salah satu target pengembangan utama. Di sisi lain, dalam upaya mengatasi kemacetan lalu lintas di kota-kota besar di Indonesia, pembangunan LRT (Light Rapid Transport) serta rencana kereta cepat antar kota juga telah mulai dilaksanakan, salah satunya adalah dimulainya tahapan awal pembangunan jalur kereta cepat antara kota Jakarta dan kota Bandung.

Upaya peningkatan dan pengembangan jalur kereta yang dilakukan saat ini tentunya akan mengakibatkan peningkatan yang cukup signifikan terhadap kepadatan lalu lintas perkeretaapian. Dalam hal ini, sistem perkeretaapian tersebut akan memerlukan aplikasi teknologi persinyalan (signaling) yang mutahir untuk (i) menjamin keselamatan pengguna moda transportasi kereta api dengan frekuensi operasi dan kepadatan lalu lintas tinggi, (ii) mengoptimalkan dan memaksimalkan daya angkut penumpang dan bahan logistik, serta (iii) mengefisiensikan dan menekan biaya operasional. Secara khusus, teknologi persinyalan perkeretaapian tersebut memerlukan sistem interlocking untuk (i) menjaga jarak aman antar kereta pada jalur yang sama, (ii) menjaga keamanan pergerakan kereta ketika melewati lokasi perlintasan atau melakukan perpindahan jalur dan (iii) mengatur kepadatan kereta berdasarkan kepadatan jalur layanan dan kecepatan kereta yang diperlukan.   Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem interlocking tentunya memerlukan instrumen dan dukungan sistem kontrol, sistem telekomunikasi dan metoda optimisasi dalam mengolah data persinyalan yang dideteksi dan diperoleh selama kereta beroperasi.

Dinamika dan pergerakan dari satu kereta terhadap kereta lainnya sangat ditentukan oleh berbagai parameter, diantaranya kecepatan kereta, waktu keberangkatan kereta, jumlah rangkaian gerbong kereta, jarak antar kereta yang beriringan serta target pemberhentian pada station tujuan. Untuk menjamin keselamatan yang maksimal serta menghindari terjadinya kecelakaan fatal pada moda transportasi kereta, teknologi automatic train protection (ATP) dan automatic warning system (AWS) serta active train protection (ATP) perlu dikuasai dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perkeretaapian nasional. Hal ini sangat penting dilakukan karena sistem instrumentasi pendukung pada persinyalan perkeretaapian memerlukan jalur kereta dengan “Highest level of reliability, availability, maintainability, and safety (RAMS)”, dengan kategori standar keamanan operasi SIL 4.

Salah satu metoda kunci untuk mendukung pengembangan moda transportasi massal berbasis kereta api adalah penyiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dengan kualitas kompetensi dan kuantitas yang memadai.  Oleh sebab itu, dalam jangka menengah (5-10 tahun ke depan) akan diperlukan satu pendidikan tingkat magister yang mampu memenuhi kebutuhan SDM unggul dengan kualifikasi ilmu dan keahlian di bidang persinyalan, kontrol dan otomasi perkeretaapian.

Program Magister Instrumentasi dan Kontrol (I&K) di Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung,  yang mulai menerima mahasiswa sejak tahun 1990, telah memiliki pengalaman dan rencana jangka panjang untuk pendidikan khusus tingkat magister terkait keilmuan I&K di Indonesia.  Dengan mengevaluasi  kebutuhan akan SDM terkait penerapan teknologi perkeretaapian nasional sebagaimana disampaikan sebelumnya, maka pada acara Seminar ASEAN Train Control Signaling Technology Solutions di Bandung tanggal 26 November 2015 telah dilakukan penandatanganan MoU antara Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB sebagai induk dari Program Magister I&K dengan Institution of Railway Signal Engineers (IRSE) Indonesia Section. Pada acara yang sama, dilakukan juga penandatanganan MOU kerja sama pendidikan magister antara Fakultas Teknologi Industri, ITB dengan program magister bidang Railway Systems Engineering and Integration (RSEI), yang dikelola oleh Railway Research and Education Center di University of Birmingham, UK.

Untuk memantapkan persiapan pelaksanaan dan pembukaan program magister I&K opsi khusus bidang Persinyalan, Kontrol dan Otomasi Perkeretaapian, pada 7 April 2016, akan dilakukan workshop sehari bertajuk “Workshop Nasional Pendidikan dan Penelitian Bidang Persinyalan, Kontrol dan Otomasi Perkeretaapian”. Workshop akan dilaksanakan bersama stakeholder  yang terkait dengan pengembangan moda transportasi kereta api di Indonesia.

 160323 POSTERposter (PDF): RailwaySignaling WS flyer_Final