Mahasiswa Teknik Fisika ITB bersama Tim Aatreya Abimanyu Juarai Lomba UAV Aerofest 2019

10 Agustus, 2019

BANDUNG, itb.ac.id — Mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung kembali menorehkan prestasi. Melalui, tim Aatreya Abimanyu dari Unit Aksantara ITB, Dimas Apeco Putra (TF 2016) berhasil meraih juara 1 pada Lomba Desain UAV (Unmanned Aerial Vehicle) Aerofest 2019 yang diselenggarakan Pusat Teknologi Penerbangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Pustekbang LAPAN) pada 8-9 Juli 2019 di Rumpin, Bogor.

Tim ini juga dikawaki oleh Moh. Alif Maarif Mabbrur (Teknik Dirgantara 2016) dan Andrea Eka Putri (Teknik Dirgantara 2016). Lomba tingkat nasional ini merupakan kompetisi penerbangan perdana yang diadakan dalam rangka memperingati sewindu Pustekbang LAPAN.

Lomba desain pesawat tanpa awak ini mengangkat tema tentang “Fly Your Humanity for Disaster”. Tujuan lomba tersebut ialah sebagai upaya untuk memajukan dunia teknologi penerbangan khususnya dalam pemanfaatannya di Indonesia pada bidang kebencanaan. Pesertanya adalah mahasiswa dari seluruh Indonesia yang diseleksi menjadi 10 besar. Kesepuluh tim kemudian diundang untuk menyampaikan presentasi di kawasan Rumpin, Bogor pada Senin (8/7/2019) lalu.

UAV dengan Misi Evakuasi Bencana

Berlatar belakang banyaknya bencana yang terjadi serta minimnya upaya evakuasi bencana di Indonesia, Tim Aatraya Abimanyu menciptakan konsep UAV yang diberi nama FE-012 Flying Evacuator and Path Finder UAV”.

“Di Indonesia ‘kan banyak terjadi bencana, terus terkadang proses evakuasinya terhambat, padahal menurut sebuah jurnal, masa kritis dari proses evakuasi adalah 72 jam pertama setelah bencana. Di golden hours ini, kemungkinan manusia untuk mampu bertahan masih sangat tinggi, sehingga harusnya evakuasi paling optimal di waktu itu,” jelas Andrea.

Bertujuan untuk meningkatkan efisiensi evakuasi bencana, Tim Aatreya Abimanyu mengusung konsep UAV dengan misi penanganan darurat bencana. Misi yang dilakukan yakni meliputi evakuasi pathfinding, body searching, dan live monitoring.

FE-012 dilengkapi tiga fitur unggulan, yakni light detection and rangingadvanced positioning, dan thermal camera. Fitur light detection and ranging memungkinkan pesawat dapat memetakan kontur permukaan bumi. Fitur advanced positioning dijalankan dengan algoritma dead reckoning and sensor fusion untuk menentukan posisi tanpa harus bergantung pada satelit GPS. Fitur thermal camera digunakan untuk mendeteksi korban yang tertimbun.

“Hasil dari 3D mapping dapat dibaca oleh user, misal dari petugas evakuator, kemudian karena sudah mengetahui lokasinya, nanti evakuasi bisa optimal dengan mengerahkan sumber daya manusia ke wilayah yang telah dipetakan,” tutur Alif Mabbrur selaku ketua tim.

Kompetisi ini dinilai langsung oleh pakar di bidang penerbangan serta evakuasi bencana. Juri pada final lomba berasal dari LAPAN, TNI AU, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta dari Ikatan Insinyur Penerbangan. Rangkaian acara Aerofest 2019 ini juga sebagai titik awal penentuan regulasi UAV di Indonesia. “Ini lomba desain UAV perdana dan terbesarnya Pustekbang LAPAN, dan di masa depan akan diadakan terus rencananya, kemudian kami jadi juara 1 di kompetisi perdana itu rasanya ya, melegakan,” kata Dimas.

Berasal dari keilmuan yang berbeda membuat tim dapat bekerja saling melengkapi. Meski sebagian waktu pengerjaan dilakukan saat masa liburan, hal ini tidak menghambat kinerja tim. Selama pengerjaan proposal hingga persiapan presentasi, ketiga anggota tim mengaku menjalankan dengan fun dan enjoy tanpa merasa terbebani. “Kami tidak expect too much, ya. Dan, tidak terlalu perlu overthink kalau misalnya gagal,” pungkas Andrea.

Selain Tim Aatreya Abimanyu, perwakilan ITB yang lain yakni Tim Master Jeprut meraih Juara 2. Sementara tim lain ikut lomba tersebut berasal dari Universitas Gajah Mada, Universitas Lampung, Universitas Andalas, Universitas Udayana, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan Yogyakarta, serta Universitas Gunadarma.