Single Blog Title

This is a single blog caption
15 Mei 2020

Mahasiswa Teknik Fisika ITB Raih Medali Perak Lomba Invensi Internasional

/
Posted By
/

Bandung, tf.itb.ac.id – Mahasiswa Teknik Fisika (TF) ITB dengan pembimbing Narendra Kurnia Putra, Ph. D, berhasil meraih Silver Medal dalam suatu kompetisi invensi skala internasional yang diadakan oleh lembaga invensi internasional di Singapura, Citizen Innovation. Dalam perlombaan invensi, para peserta diharapkan untuk menghasilkan suatu konsep/desain/prototipe akan sebuah alat yang baru atau memberikan perbaikan yang signifikan terhadap teknologi lama. Tim yang terdiri dari beberapa mahasiswa TF yakni Rio Ariyanto, Kevin Octavian, Karina Ardellia, Iqbal Anggoro, dan seorang mahasiswi Teknik Biomedik, Regina Katelia, ini berhasil meraih prestasi medali perak berkat ajuan konsep dan desain baru mereka untuk alat pendekteksi asma bernama RAIDS (Rapid Asthma Integrated Detection System).

“Asma itu, walau sudah lama perjuangan kita melawannya, sampai tahun 2016, berdasarkan riset The Global Burden of Disease Collaboration, masih mengakibatkan jumlah kematian sekitar 1000 orang per hari, “ ucap ketua tim, Rio Ariyanto. Tingginya angka kematian oleh asma ini dikarenakan gangguan asma tidak dapat diprediksi dengan baik. Kadang kala, asma menyerang pengidapnya pada saat pengidap sedang dalam keadaaan tidak siap dan sendirian yang pada akhirnya berujung keterlambatan pengobatan dan kematian. “Untuk itu, kami mengajukan sebuah alat baru ‘RAIDS’ yang bisa menjadi solusi untuk permasalahan ini, “ tegas Rio.

RAIDS bekerja mendeteksi asma menggunakan 3 jenis sensor yakni microphone, sensor pernafasan, dan electromiography (EMG). Sensor-sensor ini akan mengukur parameter-paramater yang dibutuhkan dalam mendiagnosa keadaan pernafasan pengguna RAIDS. “Jadi, kita bisa punya set data yang berisi kondisi pernafasan dia sehari-hari yang berguna untuk pengontrolan, misalnya, bagi dokter pribadinya, “ jelas Rio. Selain itu, dengan diintegrasikannya RAIDS dengan perangkat telepon pintar dan internet, RAIDS juga bisa menjadi alarm yang sangat baik bagi orang-orang terdekat pengguna RAIDS. ”Karena sudah punya set datanya, jika terjadi anomali atau serangan asma, RAIDS dapat langsung mendeteksi dan langsung mengirimkan peringatan bagi dokter pribadi atau keluarganya sehingga ia bisa tertolong jika si pengidap asma sedang dalam keadaan sendiri dan tidak siap, “ tambahnya. Pengembangan mekanisme deteksi sensor EMG ini juga didukung oleh Dr. Suprijanto, staf dosen dan peneliti ahli bidang biofeedback di Lab Instrumentasi Medik TF ITB.

Dalam mengikuti perlombaan ini, Rio dan tim juga melalui beberapa tahapan terlebih dahulu. Sebelum bertarung dalam tingkatan internasional, mereka terlebih dahulu harus berkompetisi dengan teman-teman dari Indonesia. “Jadi, sebelum lanjut ke yang internasional, ajuan ide kami diseleksi dulu dalam tahap regional oleh badan invensi yang ada di Indonesia, “ ungkap Rio. Berkat ide mereka yang cemerlang, mereka pun mendapat hak untuk berangkat ke Singapura untuk berjumpa dengan kompetitor mereka dari berbagai negara seperti Prancis, Republik Rakyat Tiongkok, dan sebagainya. “Sayangnya, karena keadaan pandemi, kami jadi tidak bisa berangkat ke sana, “ ceritanya sedih, “padahal kami berharap juga untuk bisa bertemu langsung dengan pemodal-pemodal yang berkumpul pada kegiatan itu agar alat ini bisa terealisasi untuk diproduksi,” lanjutnya.

Rio juga sempat bercerita sedikit terkait kesannya sebagai anak Teknik Fisika dalam mengerjakan alat ini. “Saat mengerjakan pekerjaan ini, tidak bisa dipungkiri, ada banyak sekali keilmuan TF yang membantuku, terutama soal pemahaman akan sinyal dan pengolahannya, “ sebut Rio. Ia juga meyakini bahwa dengan belajar di TF, ia akan semakin siap untuk membawa dampak baik bagi dunia lewat kontribusinya dalam teknologi yang merupakan ajaran fundamental di program studi Teknik Fisika. “Misalnya persoalan asma ini, dulu, pada saat belum ada teknologi yang mumpuni, pengontrolan penyakit asma sulit sekali dilakukan, tetapi berkat adanya berbagai macam teknologi, hari ini, hal tersebut sudah tidak lagi mustahil, “ tutup Rio.

Reporter/Penulis : Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Editor : Narendra Kurnia P.