Single Blog Title

This is a single blog caption
17 Sep 2020

Mengenal Lebih Dekat Bonfilio Nainggolan, Mahasiwa Berprestasi TF ITB 2020

Bonfilio Nainggolan, Mahasiswa Berprestasi TF 2020. Diambil dari media sosial Bonfilio Nainggolan

Bandung, tf.itb.ac.id – Terus-terusan mengejar prestasi tentu akan selalu terasa melelahkan, tetapi mendengarkan kisah mereka yang berprestasi, khususnya kisah yang jujur, tentu akan menjadi bahan semangat baru bagi dalam pengejaran kita. Lewat tulisan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk rehat sejenak dan, bersama penulis, menjelajahi cerita dari seorang mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (TF ITB) yang penuh dengan prestasi. Menceritakan motivasi, visi, dan sedikit dari kisah hidupnya, mahasiswa tersebut berharap liputan tentangnya bisa berkontribusi untuk memberikan semangat bagi para pembaca dalam mengejar visi masing-masing. Mahasiswa tersebut ialah Bonfilio Nainggolan.

Bonfilio Nainggolan, Mahasiswa Berprestasi dan penuh prestasi

Setiap tahunnya, ITB memberikan predikat Mahasiwa Berprestasi bagi satu orang mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling tinggi dari setiap program studi. Nama dari mahasiswa tersebut seyogyanya akan dibacakan kepada seluruh mahasiswa baru dalam ajang Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Sasana Budaya Ganesha ITB. Sayangnya, diakibatkan oleh adanya pandemi, pengumumannya diganti menjadi post media sosial oleh ITB di kanal-kanal resminya. Lalu, untuk tahun 2020, dengan IPK 3.95, Bonfilio Nainggolan adalah mahasiswa yang berhasil terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi TF ITB (pengumumannya bisa dilihat pada tautan ini).

Yang perlu diketahui, Bonfilio bukan hanya sekedar pemegang predikat Mahasiswa Berprestasi, sebab ia sendiri adalah mahasiswa yang memang punya segudang prestasi. Bonfilio adalah mahasiswa TF yang terpilih sebagai perwakilan TF ITB untuk ajang Mahasiswa Berprestasi Nasional. Pada masa Tahap Persiapan Bersama (TPB), Bonfilio juga telah berhasil meraih medali emas bidang Fisika di Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA) 2018. Tentang olimpiade sendiri, ia juga merupakan peraih medali dalam berbagai ajang sejak SMA seperti Olimipade Sains Nasional 2018 (Emas), International Physics Olympiad (Perak), dan Asian Physics Olympiad (Honorable Mention). Tampak memang bahwa Bonfilio bukan “sekadar” Mahasiswa Berprestasi, tapi ia adalah mahasiswa penuh prestasi.

Selain prestasi-prestasi akademik tersebut, Bonfilio juga punya berbagai kontribusi dalam bidang non-akademik. “Untuk sekarang, saya menjabat sebagai Ketua Divisi Akademik di Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik ITB (HMFT-ITB), “ ujar Bonfilio. Sebelumnya, ia juga merupakan seorang anggota himpunan yang aktif dan pernah menjabat juga sebagai Ketua Divisi Publikasi dan Dokumentasi Panitia Wisuda Oktober 2019 HMFT ITB. Dengan berbagai aktivitas tersebut, Bonfilio jelas mematahkan stigma mahasiswa yang berprestasi akademik adalah mahasiswa yang minim interaksi sosial dalam kehidupannya.

Motivasi, Kerja Keras, dan Kegagalan

Dalam meraih banyak pencapaian tersebut, tentu tidak mungkin jika tidak dilandaskan motivasi yang tepat begitupun yang Bonfilio alami. “Motivasi saya sebenarnya sederhana, sejak sebelum masuk ITB, saya sudah berpikir bahwa saya dan orang-orang yang saya kasihi akan bangga jika saya berhasil meraih prestasi-prestasi yang sudah saya dapatkan sekarang, “ ujar Bonfilio. Dengan motivasi tersebut, Bonfilio berhasil mengolahnya menjadi visi pribadi dan bisa menetapkan terkait apa-apa saja yang perlu ia lakukan dalam meraih keinginannya tersebut.

“Hal tersebut juga jadi berkaitan dengan keputusan saya yang tidak mengambil banyak kegiatan-kegiatan di awal perkuliahan, “ lanjut Bonfilio. Walaupun ia tahu bahwa mencoba banyak hal adalah hal yang baik juga, ia tetap tidak lagi tertarik dengan hal tersebut karena ia tahu bahwa ia memang menyenangi dunia akademik secara alamiah. “Itu sebabnya, keaktifan saya dalam organisasi pun tetap beririsan dengan persoalan akademik, “ tambah pria yang juga aktif dalam mengajar lepas untuk materi olimpiade di berbagai sekolah bonafide.

“Lalu, soal kerja keras, mungkin satu hal yang buat saya langkah lebih maju dari yang lain adalah saya sudah lebih dulu kerja keras soal akademik, “ jawab Bonfilio ketika ditanya soal kerja keras semasa TPB. Yang ia maksud sebagai bekerja keras lebih dulu di sini ialah pengalaman dia dalam bekerja keras belajar untuk menjadi seorang juara olimpiade sejak SMA. “Tapi, saya sendiri tetap mengalami masa-masa ketika saya harus bekerja ekstra keras seperti pada saat menghadapi mata kuliah pemrosesan sinyal, “ tukas Bonfilio.

Bukan hanya keperluan kerja keras, Bonfilio, tentu, seperti kita semua, juga pernah mengalami kegagalan. “Ya, tentu saja, saya juga sering kok berbagi cerita dengan teman-teman saya termasuk kesedihan saya dan kegagalan saya dalam berbagai hal, mulai dari ketidakpuasan terhadap pencapaian di suatu hal baik akademik maupun yang non-akademik, ” jawab Bonfilio terkait pengalaman akan kegagalan. “Hanya saja, semakin ke sini, saya semakin belajar bahwa hal yang terpenting dalam merasakan kegagalan ialah mengetahui cara untuk bangkit. Ini juga saya pelajari dari pembimbing saya, “ lanjut Bonfilio sembari tertawa.

Prinsip Hidup Bonfilio

Hal menarik lainnya dari Bonfilio ialah masa lalunya – terutama karena cerita tersebut muncul sebagai bukti nyata bahwa semua orang bisa saja untuk menjadi berprestasi. “Saya saat masih SD adalah seorang siswa yang sangat sulit dalam melakukan operasi matematika termasuk berhitung sederhana, “ ceritanya. Bahkan, sangking tidak terlihat adanya minat dan kemampuan matematika pada Bonfilio kecil, keluarganya mulai mendorongnya untuk memulai hobi di dunia lain yaitu dunia entertainment. “Waktu masih SD dulu, keluarga saya bahkan sempat berpikir dan mendorong saya untuk menjadi seorang pramugara, “ lanjut Bonfilio sambil terbahak.

Namun, hal tersebut berubah saat menginjak kelas 4 SD. “Pada saat itu, saya diiming-imingi hadiah mainan jika saya berhasil mendapat nilai bagus pada rapor saya, “ sambung Bonfilio. Walau terkesan sederhana, kenyataannya, hal tersebut berhasil, Bonfilio berhasil meraih nilai yang bagus karena hal tersebut. Dengan motivasi kecil tersebut, seseorang yang tadinya lemah dalam berhitung sederhana, hari ini malah mendapat kesempatan menyandang predikat Mahasiswa Berprestasi. “Sejak saat itu, saya berprinsip bahwa kemauan, motivasi, dan kepunyaan visi adalah krusial bagi seseorang. Sebab, saya sendiri mengalami hal tersebut, “ jelas Bonfilio.

Latar belakang itu juga yang memberikan efek besar pada prinsip hidup Bonfilio. “Bagi saya, walaupun saya berhasil memiliki berbagai pencapaian, saya bukanlah seseorang yang tepat untuk memberikan jalan hidup atau langkah-langkah bagi orang lainnya agar bisa menjadi ‘sukses’ ”, terangnya. Ia juga meyakini bahwa pencapaiannya tidak lebih dari sebuah monumen yang hanya indah dipandang dan tidak akan berguna bagi orang lain selain untuk dilihat. Segala prestasi tersebut tidak akan berguna jika orang yang berprestasi tidak bisa memberikan teladan atau menjadi penyemangat bagi orang lain yang mengenalnya.

“Karena kemajuan saya sampai hari ini tentu dipengaruhi oleh berbagai orang hebat lainnya di luar sana yang selalu berhasil membuat saya ingin mejadi mereka, “ ucap Bonfilio. Dalam keberjalanan hidupnya selama ini, salah satu keuntungan yang sangat ia syukuri ialah kebisaan ia melihat banyak orang yang berhasil memotivasinya untuk menjadi dirinya yang lebih baik lagi. Ini juga yang membuatnya sangat passionate dalam berbagi baik lewat sebuah diskusi maupun kegiatan belajar mengajarnya sebagai guru. “Jadi, hal yang paling penting buat saya ialah berusaha untuk menjadi orang yang tepat pada waktu yang tepat bagi mereka. Prestasi-prestasi tersebut tentu dapat membantu saya dalam mewujudkan cita-cita tersebut, tapi lagi-lagi yang utama adalah saya sendiri yang harus terus menjadi lebih baik sehingga bisa menjadi motivasi bagi orang lain dan menghasilkan orang-orang hebat lainnya“ tutup Bonfilio.

 

Penulis : Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Editor : Narendra Kurnia P.