Single Blog Title

This is a single blog caption
3 Nov 2020

Ir. Edi Leksono. M. Eng, Ph.D Serahkan Prototipe Kompor Induksi pada Hari Listrik Nasional Pemprov Jawa Barat

/
Posted By
/

Bandung, tf.itb.ac.id – Pada tanggal 2 November 2020 yang lalu, Ir. Edi Leksono, M. Eng., Ph.D., salah satu pengajar di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (TF ITB), menyerahkan prototipe kompor induksi – kompor dengan sumber tenaga listrik – hasil perancangan pada Gubernur Jawa Barat, H. Mochamad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D., dalam perhelatan Hari Listrik Nasional se-Jawa Barat. Kompor induksi yang dirancang merupakan bagian dari rencana strategis nasional dan Jawa Barat dalam mengatasi dua isu krusial yang berakar pada penggunaan kompor gas. Dua isu krusial tersebut adalah maraknya penggunaan gas LPG (liquified petroleum gas) yang dibutuhkan untuk kompor gas yang menuntut tingginya angka impor dari gas LPG dan masih akan dihasilkannya emisi karbon dari penggunaan gas LPG tersebut.

“Seperti yang bisa dilihat di media mainstream, begitu pun informasi di kalangan profesional, lebih dari 70% ketersediaan LPG di Indonesia merupakan hasil pembelian impor, “ ucap Dr. Edi. Hal ini terjadi karena komponen penyusun LPG, seperti gas C3 dan C4, tidak mudah ditemui di Indonesia seperti gas metana. “Selain itu, kategori LPG yang digunakan secara masif oleh masyarakat Indonesia yaitu LPG 3 kg juga masih menggunakan skema subsidi sehingga tentu akan ada beban anggaran tertentu yang sebisa mungkin bisa diminimalisir, “ lanjutnya. Oleh karena itu, dengan adanya inovasi kompor induksi, ada harapan bahwa Indonesia bisa sedikit mengurangi ketergantungan akan kompor gas dan sumber energinya yaitu LPG.

Bicara soal biaya, Dr. Edi optimis bahwa penggunaan kompor induksi dapat menurunkan biaya operasional dari penggunaan kompor gas. “Kalo membandingkannya dengan murahnya gas LPG 3 kg yang disubsidi, kita perlu membandingkannya dengan listrik yang disubsidi juga yang mana jika dihitung biayanya, maka kompor induksi menunjukkan penggunaan yang lebih hemat, “ cerita Dr. Edi. Walaupun, perlu juga diingat bahwa skema subsidi dari listrik pun bisa juga berubah dalam beberapa waktu ke depan sehingga perlu ada penyesuaian lagi ke depannya. “Lalu, kalau misalnya untuk daerah yang sudah ada jalur pipa gas, bisa saja untuk tetap menggunakan kompor gas jika memang lebih murah. Namun, perlu disadari bahwa kompor induksi jauh lebih mudah instalasinya dan lebih mudah pula untuk dimobilisasi, “ lanjutnya. Selain itu, tentu saja, penggunaan kompor listrik akan selaras pula dengan mimpi Indonesia terkait dengan penggunaan teknologi bersih mengingat penggunaan gas LPG sebagai bahan bakar masak, walaupun cukup bersih dibanding bahan bakar fosil lainnya, tetap akan menghasilkan polutan.

Terkait dengan penggunaannya, Dr. Edi juga mengakui bahwa, bergantung pada daya listriknya, kompor induksi sangat mungkin memiliki waktu yang lebih lama dalam memasak. “Ya, seperti teknologi lainnya, memang masih, dan senantiasa, perlu ada berbagai inovasi untuk membuat kompor induksi yang semakin baik dan sesuai dengan keadaan yang kita hadapi di Indonesia, “ ucap Dr. Edi. Jika nanti pengembangannya berhasil membuat kompor induksi yang bersaing waktu memasaknya dengan kompor gas biasa, Dr. Edi meyakini, berdasarkan survei sebelumnya, bahwa masyarakat akan mudah dalam menyerap teknologi baru ini.

Dalam pembuatannya, Dr. Edi beserta tim juga tidak menemukan kesulitan berarti dalam prosesnya. “Sebenarnya, rangkaiannya tidak sulit karena pada dasarnya adalah pemanfaatan dan pengaplikasiannya dari rangkaian osilator yang sudah cukup umum, “ jelasnya. Walaupun, karena adanya pandemi COVID-19, Dr. Edi mengakui bahwa pekerjaan memang menjadi sedikit terhambat. “Selain itu, persoalan desain juga menjadi suatu tantangan tersendiri, “ lanjut Dr. Edi. Terkait fabrikasi, ia menyatakan bahwa belum ada suatu rencana formal kecuali perbincangan-perbincangan kecil dengan pihak berkepentingan. “Karena, pada intinya, kita ingin menguasai pengetahuan terkait fundamental dan desain dari kompor induksi, soal fabrikasi, itu tidak akan lagi sulit jika kita telah menguasai akar pengetahuannya, “ tegas pengajar dari Kelompok Keahlian Teknik Fisika tersebut.

Selain mengerjakan terkait kompor induksi, sebagai Kepala Laboratorium dari Laboratorium Manajemen Energi TF ITB, Dr. Edi beserta tim juga sedang mengerjakan berbagai pekerjaan lain yang utamanya berhubungan dengan sistem manajemen baterai. Pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain mendesain Battery Energy Storage System (BESS) untuk PT. Pertamina baik untuk kendaraan listrik maupun kebutuhan stasioner, sistem manajemen baterai untuk kendaraan listrik dalam Program Riset LPDP, membantu pembangunan pembangkit baru di Maluku bersama dengan perusahaan listrik Perancis, dan lain sebagainya. Ke depannya, ia meyakini bahwa bangsa Indonesia mengarah ke komitmen yang lebih baik terkait energi khususnya teknologi listrik bersih. Ia hanya berharap bahwa kebijakan yang sudah menunjukkan indikasi positif ini bisa terus berjalan secara konsisten. “Kalau soal persoalan teknis, saya yakin sumber daya Indonesia cukup mumpuni dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada, “ tutup Dr. Edi.

 

Penulis : Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Editor : Narendra Kurnia P.