Dr. Ni Luh Wulan Septiani, Alumni TF ITB, Berhasil Raih Penghargaan dari Kemenristek Indonesia

Ditulis oleh: Ferio Brahmana (TF17)

19 November, 2020

Dr. Ni Luh Wulan Septiani (Kanan) melakukan foto bersama dengan Prof. Yudi Darma (Kiri) dan Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. (Tengah) seusai menerima penghargaan

Bandung, tf.itb.ac.id – Prestasi terus ditorehkan oleh berbagai elemen Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (TF ITB) termasuk alumni dari program magister dan doktoral TF ITB, Dr. Ni Luh Wulan Septiani. Ia berhasil mendapatkan penghargaan Penulis Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan Teknologi Lainnya yang Produktif dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional. Penghargaan ini dianugerahkan kepadanya lewat acara Anugerah Hak Kekayaan Intelektual Produktif dan Berkualitas tahun 2020 yang diselenggarakan pada tanggal 18 November 2020 secara virtual – khusus untuk para penerima penghargaan, mereka diundang secara langsung untuk menerima penghargaan dari Menristek di Jakarta. Prestasi yang Dr. Wulan, sapaan akrabnya, dapatkan merupakan apresiasi terhadap kerja kerasnya dalam memproduksi berbagai publikasi selama masih menjadi mahasiswa.

“Sepanjang perjalanan akademik saya, saya telah memproduksi setidaknya 28 publikasi dengan 19 diantaranya berhasil tembus ke jurnal Q1, “ jawab Dr. Wulan terkait jumlah publikasinya. Dari 19 publikasi tersebut, 7 diantaranya menorehkan nama Dr. Wulan sebagai penulis pertamanya. “Kalau untuk 7 publikasi yang ada di jurnal Q2, hanya satu karya yang mana saya menjadi penulis utama, “ tambah Wulan. Dengan produktivitas dan kualitas publikasi yang tinggi, tentu tidak mengherankan jika Dr. Wulan mendapatkan apresiasi tersebut.

Dr. Wulan sendiri baru mulai menggenjot produktivitas publikasinya semasa ia berkuliah pada tingkat magister di Teknik Fisika ITB. “Ini dimulai pada saat saya masuk program magister Teknik Fisika di bawah Laboratorium asuhan Prof. Brian, “ ucap Dr, Wulan yang mendapat beasiswa dari pemerintah untuk program magisternya. Kesempatan tersebut memberikan wawasan Dr. Wulan terkait dengan penggunaan material untuk keperluan sensor gas. Tertarik dengan topik tersebut, Wulan muda pun bekerja dengan keras terkait dengan pekerjaan penelitian yang berorientasi pada topik tersebut.

Lalu, dalam perjalanannya, alumni Fisika Universitas Pendidikan Indonesia ini akhirnya berkomitmen untuk melanjutkan studinya sampai jenjang doktoral. Keputusan tersebut didorong oleh dibatalkannya ikatan yang seharusnya ia jalani karena mendapatkan beasiswa dan adanya ketertarikan serta tawaran dari Laboratorium Material Fungsional Maju TF terkait dengan riset-riset yang ada di Lab. “Akhirnya, melihat ada kesempatan itu, saya mencoba untuk mendaftar program beasiswa LPDP agar ada dukungan finansial saat melanjutkan pendidikan, “ terangnya. Setelah mengetahui bahwa dirinya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP, ia pun dengan sepenuh hati melanjutkan pendidikan doktoralnya di program studi Teknik Fisika ITB.

Selain mendapatkan wawasan baru dari pihak ITB sebagai tempat menempuh pendidikan, Dr. Wulan juga beberapa kali mengikuti program pertukaran mahasiswa yang disediakan oleh ITB dalam program World Class University. Lewat program tersebut, Dr. Wulan berhasil menuntut ilmu dan menjalin kerja sama dengan Laboratorium Mesoscale Chemistry yang berada di bawah naungan National Institute of Material Science di Jepang. “Usai program pun, saya membawa pulang topik penelitian di sana dan dikerjakan ITB sehingga kerja sama antar institusi juga bisa terjaga, “ ceritanya.

Pengalaman-pengalaman tersebut juga berkontribusi besar dalam meningkatkan kapasitas dan menambah topik-topik penelitian bagi Dr. Wulan. “Lewat berbagai pengalaman tersebut, selain sensor gas, saya juga tertarik dan sedang mengerjakan beberapa topik lainnya seperti topik terkait water splitting dan supercapacitor, “ jelas Dr. Wulan. Bahkan, ke depannya, ia juga ingin mulai fokus ke topik supercapacitor selain topik sensor gas. “Sensor gas tentu masih menarik karena masih ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, tetapi, tidak bisa dipungkiri, persoalan supercapacitor ke depannya akan menjadi isu yang semakin penting dan relevan, mengingat sudah semakin gencarnya wacana transportasi listrik termasuk di Indonesia, “ terang Dr. Wulan.

Usai menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Dr. Wulan masih bersemangat untuk berkarir di bidang akademik. “Rencana paling dekat adalah melaksanakan post-doc. Kemungkinan besar di Jepang, “ ujarnya. Namun, ia juga tidak memungkiri kalau harus melanjutkan karir di bidang-bidang lainnya. “Yang penting sih, kalau bisa sesuai keinginan, asal masih bisa melaksanakan riset, “ pungkasnya.

Semangat yang terus ada dalam Dr. Wulan muncul karena ekspektasinya yang menurutnya masih jauh dari apa yang telah ia capai. “Impiannya, tentu, ingin bisa berkontribusi yang lebih besar dan nyata di bidang material, misalnya dengan menemukan material yang baru dan aplikatif untuk banyak hal, “ jawab Dr. Wulan. Terakhir, sebagai penutup, Dr. Wulan juga berbagi terkait prinsipnya untuk menjadi peneliti sampai hari ini. “Yang paling penting adalah jangan menyerah, ikhlas, dan berusaha. Karena dalam penelitian, kegagalan atau hal-hal tidak menyenangkan lainnya akan sangat sering ditemui dan hanya dengan berikhlas hati dan pantang menyerah kita dapat melewati masalah-masalah tersebut, “ tutup Dr. Wulan

 

Penulis : Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Editor : Narendra Kurnia P.