Single Blog Title

This is a single blog caption
1 Des 2020

Tim KSATRIA TF ITB Berhasil Menorehkan Prestasi pada PKM-PE dengan Topik Terkait Terapi Wicara Bagi Penderita Dysarthria

/
Posted By
/

Bandung, tf.itb.ac.id – Walau sedang dilanda pandemi, mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (TF ITB) tidak berhenti menorehkan prestasi. Kali ini, Tim KSATRIA yang diawaki oleh Muhammad Rady Irawan, Faza Lisan Sadida, dan Fian Adinata dengan bimbingan Miranti Indar Mandasari, S.T., M.T., Ph.D., berhasil meraih Juara II (setara medali perak) untuk presentasi dan Juara III (setara medali perunggu) untuk poster dalam Program Kreativitas Mahasiswa kategori Penelitian Eksakta (PKM-PE) untuk tingkat nasional. Pengumuman luar biasa ini diumumkan secara daring pada hari Sabtu, 28 November 2020.

Topik yang berhasil menjadikan mereka sebagai juara adalah ‘Analisis Korelasi Sinyal Saraf Motorik Otot dengan Sinyal Suara Ucap sebagai Upaya Kuantifikasi Kemajuan Terapi Wicara Penderita Dysarthria’. Dysarthria sendiri adalah suatu gangguan pada kemampuan berbicara seseorang yang diakibatkan oleh adanya kerusakan/kekakuan/kelemahan pada otot-otot/organ yang diperlukan untuk berbicara. Penyakit ini mungkin diakibatkan oleh berbagai macam hal seperti efek pengobatan, operasi pada daerah organ penghasil suara, stroke, dan lain sebagainya. Untuk pengobatannya, penderita biasanya harus melakukan terapi, pengobatan, atau operasi (bergantung pada penyebabnya).

“Kami berfokus pada konteks Dysarthria yang memerlukan pengobatan terapi. Harapannya, lewat analisis korelasi sinyal saraf motorik otot proses yang lebih presisi, terapi akan semakin tepat juga efektif, “ ucap Faza, salah satu anggota Tim KSATRIA. Sama seperti proses terapi yang sudah berjalan, penderita tetap akan diminta untuk berusaha berbicara. Bedanya, pada saat melaksanakan terapi, penderita akan dipasangi EMG (alat ukur sinyal dari otot) di bagian artikulator wajah. Lalu, setelah didapat hasil sinyalnya dan dengan menggunakan korelasi sinyal saraf terhadap kemampuan bicara, evaluasi dari proses terapi seharusnya akan memberikan nilai yang lebih akurat (sesuai dengan hasil riset mereka). Dengan nilai yang lebih akurat, penentuan langkah-langkah selanjutnya akan ditentukan dengan jauh lebih tepat pula. “Apalagi, untuk penderita Dysarthria akibat stroke, terapi ideal seharusnya hanya berlangsung selama 3 bulan, jika lebih dari itu pengobatan akan semakin sulit dilakukan, “ sambung Faza.

Karena dikerjakan selama pandemi, Tim KSATRIA tidak dapat memungkiri bahwa mereka mengalami cukup banyak perubahan dari rencana awal – selain kesulitan-kesulitan lainnya. “Sebelum diganti dengan bentuk narrative review, kami sempat mengalami kebingungan karena belum ada persiapan kerja sama untuk memperoleh data primer, “ ujar Rady, ketua dari Tim KSATRIA. Seperti yang diucapkan Rady, karena adanya pandemi, PKM-PE melakukan perubahan pada target luaran yang harus dikumpulkan oleh para peserta – sebelumnya, para peserta harus melaporkan pekerjaan yang mengolah data primer. “Jadi, dalam kesempatan ini, kami mencoba untuk melakukan studi berbagai studi pada berbagai karya ilmiah terkait untuk memformulasi argumen yang cukup dalam mendukung hipotesa yang kami usung, “ ujar Faza.

Selain untuk kebutuhan kompetisi, pekerjaan ini ternyata juga akan terus dilanjutkan sebagai topik riset di TF ITB. “Pekerjaan ini saya yakini masih akan terus berlanjut di TF ITB karena sejatinya langkah menuju luaran terakhir yaitu sistem yang utuh masih akan menjadi perjalanan yang panjang, “ tukas Faza. Dengan adanya keyakinan bahwa pekerjaan ini akan dilanjutkan sebagai topik riset bagi sivitas akademika lainnya di TF ITB, semakin terbukti bahwa TF ITB memang memiliki berbagai kesempatan dalam melakukan riset interdisiplin. “Sebenarnya, untuk bagian yang kami kerjakan, kami lebih berfokus pada sistem dan proses pengukuran serta pengolahannya. Namun, tidak dapat dipungkiri pengetahuan akan fisiologi manusia juga menjadi krusial terutama terkait penempatan sensor dan interpretasi data, “ ujar Faza dan Rady saling melengkapi.

Terakhir, Faza dan Rady juga memiliki sedikit tips dan trik untuk para mahasiswa lainnya yang berencana ikut dalam PKM tahun-tahun yang akan datang. “Pertama, topik yang unik dan penting/relevan akan menjadi faktor yang utama selain dari proses pengerjaannya yang benar, “ ujar Rady. Selain itu, ia juga mengingatkan para calon peserta bahwa dalam perlombaan PKM, urusan administrasi merupakan suatu tantangan tersendiri dan harus mendapatkan porsi keseriusan yang cukup juga. “Kalau dari saya, yang penting pekerjaannya dikerjakan dengan senang hati dan tawakal. Selain itu, keberanian untuk memulai juga merupakan salah satu faktor penting. Kalau memang ada yang menarik, dicoba dulu saja untuk diajukan ke pihak PKM, “ kata Faza. Terakhir, mereka berdua juga mengingatkan para peserta untuk mau berkomunikasi dan memanfaatkan tim PKM yang sudah disiapkan oleh ITB agar persiapan dari tim bisa menjadi lebih matang.

 

Penulis: Ferio Brahmana

Editor : Narendra Kurnia P.