Testimoni Mahasiswa untuk Pelaksanaan Kolokium Daring Teknik Fisika ITB

16 Juni, 2020

Bandung, tf.itb.ac.id – Wabah COVID-19 di Indonesia telah mengubah banyak tatanan kehidupan bermasyarakat yang konvensional dalam berbagai bidang dan lokasi termasuk pada aktivitas pendidikan tinggi seperti di Institut Teknologi Bandung (ITB). Perubahan ini tentu terdiri dari berbagai jenis aktivitas seperti perubahan proses kegiatan belajar mengajar, perubahan pelaksanaan/model dari praktikum, dan berbagai macam hiruk pikuk kampus lainnya baik yang akademik maupun non-akademik. Salah satu perubahan yang teranyar dapat dilihat dari apa yang terjadi pada lingkar kegiatan mahasiswa Teknik Fisika ITB akhir-akhir ini yaitu pelaksanaan kolokium daring.

Kolokium sendiri adalah suatu kegiatan persidangan ilmiah yang dilaksankan oleh program studi dan harus dilalui oleh mahasiswa dalam suatu rangkaian menuju proses penyelesaian mata kuliah Tugas Akhir (sering juga disebut sebagai skripsi). Dalam kegiatan ini, mahasiswa akan diminta untuk memaparkan hasil pekerjaannya (karya ilmiah/skripsinya) kepada beberapa dosen yang bertugas sebagai pengujinya. Seharusnya, dalam keadaan normal, kolokium akan berlangsung pada suatu ruang tertutup dengan beberapa penonton sidang yang bertujuan untuk mendengarkan dengan saksama ilmu yang dibagikan atau sekadar menyemangati temannya yang sangat tegang karena dicecar pertanyaan sulit dari pengujinya.

 

Sayangnya, mengingat kebijakan social distancing, para mahasiswa ini tidak bisa merasakan kegiatan kolokium yang biasanya dihelat secara langsung di ruangan kampus, tetapi mereka menjadi bagian dari sejarah baru karena menjadi orang-orang pertama di Teknik Fisika ITB yang mencicipi pelaksanaan kolokium daring. Dalam liputan ini, para mahasiswa bersejarah ini ingin membagikan pengalaman unik dan menarik mereka kepada kita semua. Karena, walaupun kebijakannya terkesan mengejutkan, ternyata ada banyak hal positif juga yang bisa diambil dan dijadikan catatan untuk perkembangan kegiatan akademik terkait dengan pelaksanaan kolokium daring ini.

Salah satu mahasiswa yang memberikan kesan baik untuk perhelatan kolokium daring ialah Yusuf Prasetyo. “Dengan metode daring seperti ini, saya jadi bisa mengundang teman-teman dari lokasi yang berjauhan dan jumlah yang banyak untuk ikut menonton apa yang saya paparkan, “ ungkap Yusuf. Hal ini memang benar karena dengan diadakannya kolokium lewat platform Microsoft Teams, mahasiswa yang disidang dapat lebih bebas, asalkan memiliki jaringan internet, mengajak teman-teman mereka untuk bergabung tanpa memedulikan lokasi geografis mereka pada saat itu. Hal senada juga diucapkan juga oleh Ravanny Waraney M. Komalig. “Benar, bisa mengundang banyak pihak, walau hanya terbatas di kalangan ITB saja. Selain itu, saya juga senang dengan perhelatan kolokium daring karena ini akan sangat melegakan mahasiswa yang punya kebutuhan untuk lulus sesuai jadwal normal, “ tambah Ravanny.

 

Jadi, terlihat bahwa kolokium daring ini memang membawa beberapa dampak positif. Terutama soal jangkauannya yang lebih jauh. Terlebih, karena menggunakan platform video conference, mahasiswa yang disidang bisa pula untuk merekam proses sidang mereka. “Hal itu tentu bisa dimanfaatkan untuk banyak hal positif misalnya jadi memori atau kepentingan promosi dan yang serupa, “ sebut Yusuf.

Lain lagi halnya dengan yang dialami Muhamad Riezar, ia justru merasakan langsung dampak kurang baik dari perhelatan kolokium secara daring, apalagi, Riezar menpresentasikan karya ilmiahnya berdua bersama Damar Persada. “Jadi, karena keadaan jaringan internetnya yang tidak prima dan karena saya pemaparannya berdua, sering terjadi kesulitan saat membutuhkan sinkronisasi dengan teman saya, “ cerita Riezar. Hal ini juga diamini oleh Ravanny yang sempat menjadi koordinator untuk kolokium daring temannya. “Saya sempat melihat sendiri bahwa ada teman saya yang karena sulitnya akses internet, proses sidangnya jadi memiliki banyak kendala, “ imbuhnya.

 

Selain masalah internet, sering pula ada kendala dari peralatan yang digunakan pada saat perhelatan kolokium. “Saya yakin bahwa tidak semua orang mampu memiliki laptop/peralatan komputasi yang kuat untuk melakukan video conference dengan waktu yang lama, “ ungkap Riezar lagi. Bahkan, karena hanya memiliki laptop yang kurang memadai, sering kali si mahasiswa harus lebih direpotkan untuk hal-hal teknis. “Saya jadinya juga harus sering troubleshooting laptop atau setidak-tidaknya harus menyiapkan lagi fan laptop supaya laptopnya tidak terlalu cepat panas. Kalau menurut saya, itu cukup merepotkan, “ tambah Riezar.

Bukan hanya secara teknis, kolokium juga memberikan banyak dampak berbeda dari segi nuansa dan mental. Hal ini dengan baik dijelaskan oleh Ainil K. Nisa yang melaksanakan kolokium bersama temannya, Genta M. Rahayu, ia menyatakan bahwa ada perbedaan nuansa yang sangat besar saat memaparkan materi dalam keadaan daring dibandingkan dengan pengalaman presentasi konvensional di ruangan. “Kalau daring, pemateri tidak bisa melihat mimik atau pergerakan dari penonton maupun penguji. Sebagai pemateri, saya juga jadi merasakan ada keterbatasan berekspresi (misalnya melakukan gerakan tangan) dalam melakukan presentasi seperti yang biasa saya lakukan dalam presentasi di kelas, “ jelas Ainil. Bukan hanya itu, ia, termasuk beberapa narasumber lain, juga merasakan kehilangan akan nuansa “tegang”, entah itu termasuk sebagai dampak baik atau buruk, yang mereka yakini akan mereka alami jika kolokium dilakukan pada ruangan seperti biasanya. “Lalu, saya juga menyayangkan adanya kehilangan nuansa sehabis kolokium yang harusnya dirayakan meriah bersama dengan teman-teman juga dosen pembimbing serta dosen penguji dan – tadinya, dalam ekspektasi Ainil – akan menjadi momen tak terlupakan, “ tutup Ainil.

 

Terakhir, seluruh narasumber meyakini bahwa adanya kebijakan kolokium daring ini memang benar-benar membantu mahasiswa agar dapat mencapai kelulusan sesuai jadwal, namun sepertinya belum akan bisa menggantikan sistem kolokium yang sudah dilaksanakan selama ini. Namun, setidaknya, jika ada lagi keperluan pelaksanaan kolokium yang terjadi dalam keadaan krisis atau serupa kedepannya, para narasumber cukup optimis bahwa kebijakan pelaksanaan kolokium daring cukup bisa diharapkan untuk menjadi salah satu alternatif solusi.

Reporter/Penulis : Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Editor : Narendra Kurnia P.