Pelaksanaan Syukuran Wisuda Juli Mahasiswa TF ITB Secara Daring

27 Juli, 2020

Bandung, tf.itb.ac.id – Salah satu momen yang paling ditunggu oleh seorang mahasiswa, orang tuanya, teman-temannya, tak terkecuali dosen dan pihak-pihak yang bersinggungan selama berkemahasiswaan adalah wisuda. Perayaan kelulusan tersebut selalu menghadirkan nuansa sendiri bagi tiap-tiap orang yang merasakannya dan – sangat mungkin sekali untuk dikatakan – tak tergantikan. Seperti yang bisa dibayangkan, dalam perayaan wisuda, Anda akan disuguhi senyum dan tawa dari orang-orang dari berbagai macam wilayah untuk merayakan suatu hari yang masih sangat sakral dan juga bergengsi bagi sebagian orang. Sayangnya, hal tersebut tidak lagi tampak pada pertengahan 2020 dikarenakan suatu fenomena yang tentu saja bukan hanya berdampak bagi pelaksanaan wisuda, mahasiswa, atau pun kampus, tetapi juga seluruh dunia yaitu pandemi COVID-19. Seperti itu lah, kurang lebih, gambaran dari betapa sendunya tiap mahasiswa yang harus melaksanakan wisuda dalam situasi genting karena COVID-19 yang masih mewabah di Indonesia tak terkecuali mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (TF ITB).

Hal ini yang mendorong program studi TF ITB dalam melaksanakan syukuran wisuda daring bagi para lulusannya – sekaligus melengkapi prosesi wisuda ITB yang dilangsungkan secara daring lewat tayangan prosesi yang direkam pada platform Youtube resmi Institut Teknologi Bandung. Syukuran wisuda daring pertama TF ITB ini dilaksanakan pada hari Sabtu (25/07) pukul 15.00 – 17.00 WIB menggunakan aplikasi konferensi video khusus. Acara ini dihadiri sekitar 82 peserta yang terdiri dari wisudawan/ti April dan Juli 2020 dari tingkat sarjana, pascasarjana, sampai program doktoral, yang sebagiannya, bersama dengan orang tua mereka masing-masing. Dalam platform yang sama, para dosen dan yang berkepentingan juga turut hadir untuk merayakan dan memberikan kesan dan pesan kepada para mahasiswa atas kelulusan mereka. Syukuran wisuda ini dibuat untuk mengobati mahasiswa dan anggota keluarga mahasiswa yang kecewa dengan ditiadakannya prosesi wisuda ‘normal’ karena adanya kebutuhan untuk memenuhi protokol kesehatan.

Salah satu mahasiswa yang berdomisili di luar pulau Jawa, tepatnya di kota Pontianak, Kalimantan, yang ikut dalam syukuran wisuda daring tersebut ialah Diana Vitonnia. Lulusan Teknik Fisika dengan tugas akhir terkait dengan manajemen energi tersebut hadir dalam kegiatan tersebut bersama dengan orang tuanya lewat layar laptop mereka. “Saya sangat mengapresiasi upaya program studi TF ITB dalam melaksanakan syukuran wisuda daring ini, saya senang sekali TF ITB menunjukkan effort bagi mahasiswanya, “ puji Diana akan pelaksanaan acara.

 

Namun, Diana merasa bahwa syukuran wisuda – juga tanpa prosesi ‘normal’ – secara daring menghilangkan esensi dari perayaan kelulusan itu sendiri. “Karena segala sesuatu yang berkaitan dengan wisudanya ini dilaksanakan daring, saya jadi tidak bisa merasakan sebuah momen ‘wah’ yang selama ini selalu tampak dari wisuda-wisuda secara ‘normal’, “ ucap Diana. Bagi dia, ini menjadikan wisudanya seolah-olah tidak ada bedanya dengan hari-hari lainnya – biasa saja. “Sebenarnya saya tidak terlalu masalah dengan hal itu, tapi dipikir-pikir siapa pun pasti akan lebih senang jika mereka dilepas dari sebuah institusi dengan suatu ‘semangat baru’ yang biasanya kita dapatkan lewat prosesi atau kegiatan yang berkaitan dengan wisuda ITB secara ‘normal’, “ pungkas Diana.

Ia juga sangat menyesali kehilangan momen-momen perayaan bersama dengan teman-teman kampus seperjuangan. “Masuk ITB, masuk jurusan, dan berbagai macam kegiatan lainnya kan selalu ada kebersamaan ya, rasanya sedih saja karena malah di bagian puncaknya kebersamaan itu tidak didapatkan, “ cerita Diana. Bahkan, Diana meyakini bahwa setelah adanya pandemi dan fenomena-fenomena sosial yang mengiringinya termasuk ketidakbisaan mahasiswa merayakan wisuda membuat ia belajar akan hal-hal baru terkait interaksi sosial. “Saya jadi paham bahwa ternyata menghabiskan waktu dengan seseorang yang kita kenal dekat itu penting sekali. Saya juga mulai merasa bahwa ada kepentingan juga untuk bisa saling mengapresiasi ketika kita bisa hidup bersama dengan orang lain secara bebas, “ kata Diana.

Terkait soal bagaimana wisuda ke depan, Diana sebenarnya tidak terlalu banyak berkomentar. Diana hanya mengatakan bahwa ke depannya, terkait dengan perayaan-perayaan yang sebenarnya sangat penting bagi sebagian orang, harus ada komunikasi yang lancar di antara pihak-pihak yang berkepentingan. “Baik kampus maupun mahasiswa harus bisa saling mengerti dan menjaga komunikasi agar bisa mencapai kesepakatan yang baik. Kalo saya melihat dari apa yang telah dilakukan TF, mungkin ke depannya, bisa pula untuk melaksanakan prosesi wisuda per program studi agar pengumpulan massa bisa semakin mudah diatur sedemikian rupa, tetapi proses wisuda bisa tetap berjalan, “ tutup Diana.

Uniknya, pada perayaan wisuda TF ITB kali ini, sebenarnya ada pula beberapa dosen TF ITB yang juga mengalami proses wisuda online. Hal tersebut bisa terjadi sebab dosen-dosen tersebut baru saja menyelesaikan Program Profesi Insinyur. Salah satu dari dosen tersebut ialah Ir. Joko Sarwono, Ph.D.

“Dengan adanya wisuda daring ini, saya artinya sudah merasakan 3 kali wisuda dari ITB di 3 tempat berbeda yaitu Gedung Serba Guna ITB – sekarang bernama Center for Art Design and Language, Sasana Budaya Ganesha, dan, yang sekarang, di personal computer, “ buka Dr. Joko. Sebagai seseorang yang sudah merasakan wisuda beberapa kali, Dr. Joko tentu punya persepsi sendiri terkait dengan wisuda daring. “Saya meyakini bahwa dalam setiap kesempatan/kejadian selalu ada hal baik yang bisa kita pandang. Dalam wisuda daring ini, kita setidaknya bisa melihat bahwa persiapan yang dilakukan bisa lebih sederhana daripada wisuda yang biasa, “ cerita Dr. Joko.

 

Walau begitu, Dr. Joko sangat sadar bahwa pasti ada banyak sekali mahasiswa yang menunggu-nunggu dan memimpikan momen wisuda dan ia berempati untuk para mahasiswa tersebut. “Hanya saja, saya kira perlu bagi kita untuk bisa berusaha menciptakan kebahagiaan kita sendiri dari momen yang ada, “ ucap Dr. Joko. Ia meyakini bahwa tiap orang bisa membangun paradigma sendiri dalam memandang suatu persoalan sehingga seseorang tersebut bisa mengambil sisi terang dari persoalan yang sedang dihadapi.

Juga karena simpatinya terhadap prosesi dan kegiatan yang berkaitan dengan wisuda yang lebih baik lagi ke depannya, ia juga memiliki ide agar prosesi wisuda ke depannya bisa lebih menyenangkan para wisudawan jika seandainya persoalan pandemi ini belum juga membaik sampai dengan jadwal wisuda berikutnya – walau tentu tidak kita ingini. “Ke depannya harus dipikirkan bagaimana cara agar wisuda dibuat bisa sebagian hadir dan sebagian secara daring (kehadirannya), begitu pun bagi yang daring, kita harus bisa berusaha lebih untuk membuat yang tidak bisa hadir/hadir secara daring bisa merasakan, sebisa mungkin, secara ‘sama’ dengan yang hadir, “ tutup Dr. Joko.

Pada akhirnya, perlaksanaan wisuda dapat tetap berjalan dengan baik. Para orang tua atau teman-teman yang masih ingin bernostalgia dengan acara tersebut dapat melihat rekaman kegiatan tersebut lewat platform yang digunakan prodi. Ke depannya, tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk bisa berinovasi agar kebahagiaan yang, bagi banyak orang, monumental ini bisa terus diberikan secara adil kepada para mahasiswa, orang tua, dan pihak-pihak lainnya yang memang berhak dan layak untuk mendapatkannya.

 

Penulis : Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Editor : Narendra Kurnia P.