Single Blog Title

This is a single blog caption
15 Sep 2020

Maksimalkan Praktikum Daring, TF ITB Kirim Kit Praktikum untuk Mahasiswa

Kit praktikum dibongkar oleh mahasiswa setelah sampai di kediaman. Diambil dari media sosial Riri Raissa Syifa Nabilah.

Bandung, tf.itb.ac.id – Pandemi telah merubah berbagai paradigma juga keberjalanan dari berbagai aktivitas akademik pada berbagai institusi akademik termasuk program studi Teknik Fisika ITB (TF ITB). Aktivitas tersebut terdiri dari perkuliahan, bimbingan, sidang tugas akhir, bahkan sampai praktikum. Mungkin, Anda akan mudah membayangkan pergesaran aktivitas luring menjadi daring bagi beberapa aktivitas tersebut seperti kuliah dan bimbingan yang memang telah berlangsung di berbagai tempat walau dengan beragam keterbatasan. Namun, bagaimana dengan praktikum? Bukankah hal tersebut merupakan kegiatan yang justru menitikberatkan interaksi langsung antara mahasiswa dengan alat praktek? Bagaimana cara untuk bisa menyesuaikannya dengan kondisi pandemi sekarang?

TF ITB punya jawabannya. Menyadari bahwa kunci dalam pelaksanaan praktikum ialah interaksi antara mahasiswa dengan alat praktik, TF ITB mengeluarkan sebuah kebijakan yang memungkinkan program studi untuk mengirimkan satu set kit praktikum kepada setiap mahasiswa peserta mata kuliah Laboratorium Teknik Fisika I. Tentu saja, hal ini memungkinkan karena kit praktikum yang terdiri dari mikrokontroler, resistor, dan lain bukanlah alat-alat yang berbobot besar dan berharga tinggi. Namun, kebijakan TF ITB ini telah menunjukkan bahwa TF ITB benar-benar berkomitmen dan berusaha sebaik-baiknya untuk menciptakan suasana terbaik bagi kegiatan akademik mahasiswanya termasuk praktikum yang di banyak tempat masih menjadi masalah.

Kebijakan TF ITB tersebut juga direspon secara baik oleh mahasiswanya. Seperti apa yang diakui oleh Riri Raissa Syifa Nabilah, salah satu mahasiswa TF ITB 2019, kebijakan ITB benar-benar membuatnya sangat terkesan. “Aku bahkan langsung post barang-barangnya ke media sosial sangking senangnya! Semua teman-temanku juga takjub dan apresiasi TF. Ini juga membantu banget buat teman-teman yang awalnya tidak semangat ketika masuk TF, “ sambung Riri. Hal senada juga diungkapkan oleh ketua angaktan TF ITB 2019, Muhammad Alfiyya Fajra. “Walau ada pandemi, TF ITB benar-benar menunjukkan usahanya dalam mewujudkan pendidikan yang maksimal. Terutama, untuk praktikum, alat-alat menjadi yang utama sehingga tentu mahasiswa sangat terbantu akan hal ini, “ ujar Alfi.

Sebelumnya, untuk dapat mengirimkan alat menuju rumah mahasiswa masing-masing, TF ITB telah melakukan pendataan domisili mahasiswa terlebih dahulu kurang lebih seminggu sebelum perkuliahan. Jadi, tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa kebijakan benar-benar dipikirkan matang-matang dan dijadikan sebagai suatu prioritas. Setelah mendapatkan alamat para mahasiswa yang terbentang dari Sumatera sampai Ambon, paket-paket komponen tersebut lalu dikirim lewat jasa ekspedisi. “Waktu sampai, sayangnya ada pula komponen-komponen yang tidak bekerja dengan baik atau tidak sesuai dengan spesifikasi. Namun, TF ITB benar-benar profesional, jika ada alat yang rusak, praktikan diminta untuk membeli alat yang serupa dan dananya akan diganti oleh TF ITB nanti, ” jelas Aurelia Devina, mahasiswa TF ITB 2019 lainnya.

Namun, walau masalah komponen telah terselesaikan, persoalan praktikum tidaklah hanya bergantung pada permasalahan fasilitas praktikum. Salah satu yang masih menjadi kendala dalam pelaksanaan praktikum adalah aktivitas bimbingan dalam praktikum. “Pada kenyataannya, walau sudah ada komponennya, pasti masih ada saja mahasiswa yang kebingungan dan terbatas jika ingin mengajukan pertanyaan, “ cerita Riri. Tidak jauh berbeda, Aurelia juga merasakan hal yang sama. “Ada beberapa masalah yang saya temui, pertama saya cukup awam dengan perangkat yang dikirim. Kedua, jika ingin melakukan asistensi, pasti tetap ada kendala internet yang menyulitkan bimbingan, “ tambah Aurel.

Paradigma lainnya juga diberikan oleh Alfi dalam melihat kendala yang masih terjadi dalam aktivitas praktikum. “Menurut saya, praktikum menjadi lebih terbatas sebenarnya komunikasi yang tidak lancar. Lalu, satu lagi yang berbeda dengan praktikum luring, dalam praktikum daring, asisten tidak bisa langsung membantu praktikan yang mana itu akan sangat membantu, “ terang Alfi.

Tentu saja, dari berbagai testimoni tersebut, harus diakui bahwa aktivitas praktikum ini masih memerlukan banyak pembaharuan – terutama jika kondisi pandemi tidak akan membaik dalam beberapa waktu ke depan. Namun, hal itu tentu wajar mengingat bahwa kondisi pandemi dengan skala yang diakibatkan COVID-19 adalah hal baru bagi kita semua, terutama di Indonesia, dan perubahan dalam pedagogi pendidikan, apalagi untuk konteks praktikum, tentu tidak akan bisa dilaksanakan secara cepat. Setidaknya, dengan komitmen yang ditunjukkan TF ITB untuk menciptakan pengalaman pendidikan yang semaksimal mungkin, kita bisa yakin bahwa akan ada hal yang lebih baik lagi yang akan ditunjukkan oleh TF ITB berikutnya – terutama demi memberikan semangat belajar bagi mahasiswa-mahasiswanya

 

Penulis : Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Editor : Narendra Kurnia P.